Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Menjadi seorang Da’i (penyampai dakwah) adalah tugas mulia, mewarisi tugas para Nabi dan Rasul. Namun, kemuliaan ini datang bersama tanggung jawab besar untuk menjaga etika (adab) dalam setiap perkataan dan perbuatan. Etika Da’i adalah fondasi yang menentukan keberkahan dakwah, serta seberapa besar pesan tersebut dapat diterima dan memberikan dampak positif pada umat.

Etika seorang Da’i dimulai dari kedalaman hati dan kebenaran ilmu.

  • 1. Ikhlas (Lillahi Ta’ala): Niat berdakwah harus murni hanya untuk mencari ridha Allah SWT, bukan mencari popularitas, pujian, atau materi. Keikhlasan akan menjaga Da’i dari rasa sombong dan putus asa.
  • 2. Kedalaman Ilmu (Faqih fiddin): Seorang Da’i harus memiliki pemahaman agama yang mendalam dan otoritatif. Ia wajib memastikan setiap materi yang disampaikan berlandaskan dalil yang shahih dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Menghindari penyampaian informasi yang belum diverifikasi adalah etika ilmiah yang mutlak.
  • 3. Konsisten Belajar: Dunia terus berkembang, begitu juga tantangan umat. Da’i harus terus belajar, baik ilmu agama (tafaqquh fiddin) maupun ilmu pengetahuan umum (tsaqafah), agar dakwahnya selalu relevan dan menjawab persoalan kontemporer.
  • 4. Berbicara dengan Hikmah: Menyampaikan kebenaran pada waktu yang tepat, dengan cara yang tepat, dan kepada orang yang tepat. Hikmah meliputi kelembutan, kebijaksanaan, dan penggunaan analogi yang mudah dipahami.
  • 5. Berbahasa Lemah Lembut (Qaulul Layyin): Menghindari kata-kata kasar, menghina, atau merendahkan orang lain, meskipun dalam membantah kesalahan. Sifat marah, sinis, dan mencela harus dijauhi.
  • 6. Fokus pada Solusi, Bukan Celaan: Lebih mengedepankan ajakan pada kebaikan (targhib) daripada ancaman dan celaan (tarhib). Dakwah harus memotivasi perbaikan, bukan mempermalukan.
  • 7. Menghargai Perbedaan (Tasamuh): Mengakui adanya perbedaan pendapat (khilafiyah) dalam Islam yang bersifat furu’iyyah (cabang). Da’i tidak boleh memaksakan satu pendapat sebagai kebenaran mutlak, apalagi memicu perpecahan.
  • 8. Menjadi Teladan: Da’i harus menjadi contoh hidup dari apa yang ia sampaikan. Kesesuaian antara perkataan dan perbuatan (Integritas) adalah etika tertinggi. Jangan menyeru orang lain meninggalkan maksiat, sementara Da’i sendiri melakukannya.
  • 9. Bersikap Tawadhu’ (Rendah Hati): Menghindari sifat ‘ujub (kagum pada diri sendiri) dan takabur (sombong). Da’i harus menyadari bahwa keberhasilan dakwah adalah murni pertolongan dari Allah.
  • 10. Menjaga Amanah dan Profesionalisme: Jika Da’i berprofesi di lembaga penyiaran atau pendidikan, ia harus menjaga profesionalisme: datang tepat waktu, menyiapkan materi dengan baik, dan memenuhi komitmen yang telah dibuat.

Dengan mengamalkan etika-etika ini, seorang Da’i akan mampu membangun kepercayaan umat, menjadikan dakwahnya efektif dan berkelanjutan, serta mendapatkan keberkahan di sisi Allah SWT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *